Bumi, Bulan dan Mentari


|meninggalkan bulan

Kuberkenalan dengannya saat mentari tak lagi menyapaku pada oktober sore yang sendu. Atau tepatnya, mentari pergi bersama angkasa jingga yang beringsut-ingsut membungkusnya dalam awan yang gelap. Entah, mungkin sekarang mereka sudah mempunyai keturunan berupa gemintang yang berkilau riang.Saat itu, jiwaku muram. Mentari telah lenyap dilamar malam yang menyisakan kehampaan. Kupandang-pandang, betapa malang nasibku nian. Sampai kemudian,bulan datang menyapa. Sedikit mengisi hatiku yang hampa. Kuungkapkan kepadanya,aku tersiksa karena rindu. Karena rindu yang tak tersampaikan kepada sang mentari yang bersinar terang.Perlahan-lahan, aku mulai menyukai bulan. Ia senantiasa mendengarkanku,menasehatiku, menemaniku membicarakan permasalahanku. Tidak seperti mentari yang cuek dan tak suka memberi hati. Sampai pada akhirnya, bulan mengucapkan kalau ia juga suka kepadaku. Kadangan, dunia ini tidak suka berteman denganku.Kulihat erat-erat rembulan, kuamat-amat. Ada mentari disana, kulihat mentaridisana. Benar saja, ternyata rembulan memantulkan sinar mentari.Ah,hatiku jadi galau. Aku rindu mentari.

|bulan marah

bulan tau aku merindukan mentari. Sikapnya berubah kepadaku.Diacuhkannya semua sapaku, tidak dihiraukannya semua tanyaku. Hei bulan, apakahkamu mengalami cemburu?alampun seakan-akan sejalan dengannya. Gerimis menderai sedari tadi, langitpun kelam dan mengelabu. Atau, jangan-jangan ia akan membawa bulan? Sebagaimana iamenculik mentari dulu.Akupun risau, mengapa bulan begitu marah. Sampai-sampai, saat aku hendakberpamitan untuk tidur, ia malah berucap: “tolong tinggalkan aku! Kau taucaranya,kan?! Tinggalkan aku sekarang!”Ah,bulan.. Bagaimana bisa aku meninggalkanmu, atau dalam posisi lain, kamu yangmeninggalkanku. Bukankah kita telah diciptakan dalam satu orbit edar? Ah, pastikau lupa tentang itu.Tetapi, bila engkau ingin aku pergi, baiklah. Mungkin aku perlu menyingkir.Meneduh dari tangismu. Rinai gerimis yang mulai bergemeletuk deras menjadihujan. Hujan yang sehujan-hujannya.

|tentang awan

derai hujan mendera keras tubuhku. Bulan benarbenar menangissejadinya. Menguras mata airnya sampai kering, yang mungkin selama ini belumpernah ditumpahkan. Ah,kadang cinta paradoks. Di satu sisi berbuah senyum manis dengan hati indah membuncah, sedang di lainnya berhasil derai tangis sesenggukan dengan hati yang lara tak tertahankan.Bulan hilang. Tergugu di balik awan. Sebentar kawan, apa, atau siapa tepatnyaawan itu? Bukankah ia yang telah pergi membawa mentari silam? Yang tiba-tiba menghadirkan malam kelam sehingga muncullah bulan. Sekarang, saat bulan melaratangis awan datang membawanya, menghilangkannya. Mendatangkan tangis hujan sangbulan.Hai,awan! Kemana kau bawa mentari pergi?! Dimana kausembunyikan bulan kini?!Aku merindukannya. Aku merindukan dia. Aku merindukan mereka..

|meneriaki terang

jauh sebelum gelap datang, mentari telah bersinggasana dalam terang. Dalam pada itu, segala hal dan benda akan terlihat jelas. Tak perlulah aku memicing-micingkan mata untuk sekedar melihat berapa batang pohon yang ada di pekarangan.Tapi,bukankah di malam ada bulan? Yang bisa saja menerangi pepohonan dalam temaram malam. Bulan, seperti halnya cermin, hanya memantulkan sinar. Cahayanya temaram, malah kadang pudar tertutup kabut malam. Maka, aku tidak bisa berbuat banyak dengan bulan..Malam semakin gulita, mengelam yang membuat mata seperti buta. Tak ada cahaya,tak ada sinar, tak ada terang. Satu-satunya cahaya yang seharusnya ada lenyap entah kemana. Menyublim mungkin, kerna merasa kecewa tak terkira. Kututup mata,membayangkan terang. Membayangkan singgasana tempat mentari bertahta.

|annihilasi

Pagi hari. Ini pagi hari. Gelap telah terangkat. Di barat kulihat bulan tersenyum pucat. Pasi, dengan wajah habis menangisi. Di timur, diufuk, kulihat semburat berkilat-kilat. Menerobos awan mencari sela untukmelihat. Ya, terang ini. Terang ini adalah mentari. Perlahan, terbitlah ia menyingsing awan menyinari bumi, menyinariku. Sedang dibarat, bulan redupsebagian. Terus meredup sampai pada saat dimana mentari-bulan berada tepat padasatu garis horison. Mereka berpandangan, lama. Lantas bersama-sama memandangku,memandang bumi. Raut kecewa terpampang; bulan sendu, mentari tergugu. Keduanya seharusnya tidak bertemu. Keduanya seharusnya tak usah bertatap.

Ini semua kernaku. Bulan hilang, pias dimakan terang. Tak lama,mentari menggugu kembali dibawa awan. Tangis mentari pun jatuh. Berderaian. Bergemeletuk sebutir-sebutir. Lalu tumpah dengan derasnya.

O, akulah bumi. Yang terderai tangis dua dewi. Senantiasa; Kurindukan bulan pada malam, Kutunggu mentari pada siang. Sungguh, jika ku dua, maka akan kupinang mereka : Satu-Satu.

1 Comment (+add yours?)

  1. Ruswan Efendi
    Nov 02, 2010 @ 20:56:41

    Sedikit koreksi aja Kl lebih tepatnya jangan oake kata Bulan,,,,,kl ada kata Mentari…..Bulan dan Matahari Rembulan dan Mentari.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: