Jilbab dan Logika Laki-laki


“[Seorang perempuan itu dapat dinilai dari cara ia berpakaian, jika ia berpakaian sopan maka secara tidak langsung ia telah berkata. “Hormatilah aku”. Jika ia berpakaian tidak sopan, maka dapat dikatakan bahwa ia telah berkata, “Godalah aku”]”.

Itu adalah kata-kata yang disampaikan oleh dosen saya ketika hari pertama saya masuk kuliah tahun 2004 silam. Walaupun saat itu saya belum banyak mengetahui tentang hakikat jilbab, tetapi kata-kata tersebut terus terngiang di dalam pikiran saya. Waktu itu secara nalar saya belum mengerti makna yang dikandungnya dengan tepat. Akan tetapi entah mengapa perasaan dan feeling saya mengatakan bahwa kata-kata itu benar adanya.

Seiring perjalanan waktu, perlahan pengetahuan saya tentang keislaman makin bertambah. Sedikit demi sedikit saya belajar tentang fitrah sebagai manusia, sebagai laki-laki. Demikian juga pertanyaan-pertanyaan saya terkait dengan jilbab dan kata-kata dosen saya yang selalu mengendap di pikiran.

Secara terminologi, beberapa sumber mendefinisikan jilbab dengan pakaian yang lebar, longgar dan dan menutupi seluruh bagian tubuh. Jilbab dapat pula berarti selendang, atau pakaian longgar yang dipakai wanita untuk menutupi kepala, dada dan bagian belakang tubuhnya. Al Quran sendiri dalam surat An-Nur ayat 31 antara lain menyatakan bahwa Allah telah mengatakan kepada perempuan yang beriman untuk menutupi dada dan leher dengan selendang atau jilbab. Ayat tersebut mengandung perintah bahwa seorang muslimah wajib mengenakan jilbab atau kerudung. Dalam tulisan ini saya tidak dalam mempersoalkan jenis jilbab atau kerudung tertentu karena sekarang ini jenis dan macam jilbab sangat bervariasi mengikuti trend dan mode jaman. Hal yang lebih saya tekankan adalah makna dan kandungan perintah berjilbab dilihat dari sisi logika dan fitrah laki-laki sebagai orang yang akan mempunyai tanggungjawab terhadap 4 (empat) perempuan di sekelilingnya yaitu ibu, istri, adik perempuan, dan anak perempuannya (jika punya).

Seperti kita ketahui bahwa laki-laki diciptakan untuk perempuan, demikian juga sebaliknya. Mereka secara fitrah diciptakan untuk mempunyai kecenderungan dalam hal rasa cinta dan sayang. Kecenderungan untuk saling berbagi dan melengkapi, serta kecenderungan untuk saling membutuhkan satu sama lain. Fitrah inilah yang melandasi adanya pernikahan sebagai sarana mulia mempertemukan dua fitrah tersebut.

Kembali ke masalah jilbab, kaum laki-laki mempunyai pendapat yang berbeda-beda apabila ditanyakan kepadanya tentang jilbab. Sudah fitrahnya bahwa perempuan itu merupakan sesuatu yang indah dimata laki-laki. Akan tetapi keindahan ini harus dijaga dan dilindungi secara fitrah pula. Di satu sisi, banyak kaum laki-laki yang menilai perempuan dari segi fisik. Mereka cenderung untuk menyukai perempuan yang bentuk badannya bagus, seperti gitar Spanyol kata orang. Mereka mengedepankan penampilan fisik daripada kebaikan hati dan kemuliaan akhlak. Karena itulah mereka pada umumnya menyukai perempuan yang berpakaian lebih terbuka daripada yang tertutup. Kesukaan ini bukan hanya terhadap istri sendiri, melainkan kesukaan terhadap perempuan pada umumnya. Anehnya sekarang banyak perempuan yang bangga dengan pakaian minim dan terbukanya. Padahal sesungguhnya mereka sedang menjadi konsumsi mata para laki-laki yang [hanya] menyukai keindahan perempuan.

Kelompok yang kedua adalah laki-laki yang pada dasarnya suka untuk melihat perempuan yang berpakaian terbuka atau minim, namun ia tidak menginginkan istrinya berpakaian terbuka atau minim. Ia suka melihat perempuan dimana saja yang berpakaian minim, tetapi akan sangat marah jika istrinya berpakaian demikian dimuka umum. Mereka pada dasarnya cemburu dan tidak rela ketika istrinya dilihat oleh orang lain dengan pakaian yang terbuka. Jika demikian yang terjadi, mengapa ia tetap suka jika melihat perempuan yang berpakaian terbuka. Lagi-lagi hal ini adalah masalah fitrah dan kembali kepada pribadi masing-masing. Akan tetapi lagi-lagi pihak perempuan yang menjadi “korban mata” para pria seperti ini. Perempuan yang berpakaian terbuka mungkin tidak menyadari bahwa “keindahan” mereka dinikmati secara ilegal oleh banyak orang. Mereka cenderung bangga jika mampu menarik perhatian banyak laki-laki.

Kelompok yang ketiga adalah laki-laki yang merasa malu dan miris apabila melihat perempuan dengan pakaian yang terbuka. Laki-laki seperti ini bukannya tidak menyukai keindahan yang ada pada perempuan, secara fitrah semua laki-laki normal akan menyukai keindahan pada diri perempuan. Akan tetapi laki-laki seperti ini menyadari bahwa ada keindahan yang menjadi haknya, dan ada keindahan yang bukan menjadi haknya. Mereka malu apabila mengambil hak orang lain. Terlepas dari banyaknya perempuan yang berpakaian terbuka, mereka sadar bahwa pengambilan hak orang lain ini akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Karena itulah pada umumnya laki-laki dalam kelompok ini menghendaki perempuan yang menjadi istrinya adalah perempuan yang berpakaian tertutup (berjilbab).

Mereka menyadari bahwa pada diri istrinya terdapat amanah, hak dan kewajiban untuk menjaganya. Ia tidak ingin ada laki-laki lain yang memandang istrinya dengan pandangan ketika ia melihat perempuan yang berpakaian terbuka sehingga ia akan menjaga istrinya dengan baik, termasuk cara berpakaiannya. Perlu diingat bahwa pada dasarnya sifat laki-laki itu sangat pencemburu sehingga sangat jarang ada laki-laki yang bersedia diduakan oleh perempuan/istrinya. Jangankan diduakan, jika ada laki-laki lain yang berusaha mendekati perempuanya, maka seorang laki-laki secara alamiah akan mempertahankan perempuannya dengan taruhan nyawa sekalipun. Mereka tidak membatasi atau menghalangi perempuan untuk berkarya, akan tetapi karena mereka sangat menghargai dan memuliakan istrinyalah sehingga ia tidak rela apabila ada laki-laki lain yang “memandangnya”.

Dari pemikiran di atas pada akhirnya saya menyadari kebenaran kata-kata dosen saya tersebut. Laki-laki cenderung akan melindungi dan menjaga perempuannya dari gangguan laki-laki lain. Seorang laki-laki akan memuliakan perempuan yang memuliakan dirinya sendiri dengan berpakaian sopan. Jika perempuan sendiri rela dan bangga apabila dirinya menjadi pusat perhatian dan pandangan banyak laki-laki, maka benarlah apa yang dibilang dosen saya tersebut bahwa secara tidak langsung dia telah berkata, “Pandanglah dan godalah aku”.

Jika demikian, wahai para laki-laki, termasuk dalam kelompok manakah engkau sekalian? Dan wahai para perempuan, laki-laki dalam kelompok manakah yang lebih engkau sukai untuk dijadikan pemimpin bagi keluargamu? Wallahua’lam.

-sri-2010-

9 Comments (+add yours?)

  1. rahmatt
    Sep 03, 2010 @ 10:22:29

    kelompok laki-laki yang suka jika melihat perempuan patuh pada perintah Tuhannya
    hehe

    Reply

    • rahmatt
      Sep 07, 2010 @ 11:30:30

      bicara soal jilbab, saya cenderung menganggapnya sebagai bukti ketaatan muslimah pada perintah Tuhannya. jilbab adalah kesan awal kesholihan seorang wanita.

      apakah muslimah yang berjilbab pasti sholihah? saya kira belum tentu. apakah muslimah yang tidak berjilbab tidak sholihah? yang jelas bagi saya nilai ke-sholihah-annya berkurang.

      jika diniatkan untuk mematuhi perintah Alloh, saya pikir sudah ada nilai tersendiri bagi muslimah yang berjilbab

      Reply

  2. akusukamenulis
    Sep 03, 2010 @ 21:15:16

    ini kira2 butuh tulisan tandingan dari kaum perempuan nggak ya?
    misalnya berjudul, “Isbal dan Perasaan Perempuan”..😀

    Reply

  3. dinoyudha
    Sep 07, 2010 @ 08:29:25

    Jika ada hak, maka ada kewajiban yang harus ditunaikan. Apakah perempuan yang mengumbar auratnya kemudian menjadi kewajiban bagi laki-laki untuk menyelamatkannya? Masalah ini sepertinya belum mendapat solusi tepat..
    Saya pernah menulis tentang hot pants di link berikut: http://dinoyudha.wordpress.com/2009/05/15/hot-pants/

    Reply

    • Kebumen
      Sep 07, 2010 @ 09:05:00

      Pertanyaannya adalah, siapa yg punya hak? siapa yang punya kewajiban? Untuk menyelamatkan jawabannya adalah iya, wajib malah, tapi ingat harus dalam koridor dan rel yang tepat. Karena sedikit sekali efeknya, kurang maslahat, dan terlalu memaksakan kalau kita protes dan hanya mengomentari perempuan berpakaian terbuka yang sedang berada di kutub utara misalnya. Pun hal ini akan berbenturan dengan standar dan hak orang lain juga. Ketika kita hendak ‘menyelamatkan’ perempuan yang berpakaian terbuka yang bukan hak kita, kita akan dianggap melanggar hak mereka, karena bumi ini bukan milik kita saja. Karena semua makhluk di bumi ini berhak atas bumi Nya. Maka dari itu ketika hal ini sudah dilihat dari sisi hak dan kewajiban, persoalan seperti ini akan selalu debateble.

      Reply

      • dinoyudha
        Sep 07, 2010 @ 15:09:00

        Makna ‘menyelamatkan’ di antara kita pun sepertinya sudah berbeda.

        Kalimat tanya di komen saya sebelumnya terkait dengan statement penulis yang menyatakan, “…ada keindahan yang bukan menjadi haknya”. Ini berarti ada kewajiban yang harus ditunaikan ketika dia ingin mendapatkan haknya, dan kewajiban inilah yang saya maksud dengan ‘menyelamatkan’.

    • Kebumen
      Sep 07, 2010 @ 15:25:11

      Kalau demikian yang dimaksud, memang seharusnya demikian dan saya setuju. Jadinya kata ‘menyelamatkan’ itu bermakna menikahi. Karena disitu ada kalimat “Apakah perempuan yang mengumbar auratnya kemudian menjadi kewajiban bagi laki-laki untuk menyelamatkannya?” dan link ke tulisan bung Dino makanya saya berasumsi itu bersifat general.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: