Membangun Mentalitas Birokrasi


 

Kisah pelesiran Gayus Tambunan ke Bali yang dilansir media menjadi sebuah “tamparan“ keras dalam proses reformasi birokrasi.  Pada Jumat (15/10) silam, Gayus tertangkap kamera sedang menonton pertandingan tenis Commonwealth Bank Tournament of Champions di Nusa Dua, Bali.  Pertanyaan besar pun muncul, bagaimana mungkin seorang tahanan Rutan Brimob bisa lolos keluar dari jeruji besi untuk sekedar menonton tenis di Bali?

Banyak pihak menyatakan kegeramannya atas ulah Gayus.  Jika dulu Gayus membuat “gerah” pegawai Direktorat Jenderal Pajak karena kasus mafia pajak membuat rekan-rekannya di institusi keuangan itu dicaci-maki masyarakat, kini ulah Gayus telah mencoreng institusi kepolisian dan kejaksaan agung.  Gayus menjadi ikon lemahnya penegakan hukum di negeri ini.

Bagi proses reformasi birokrasi, kasus mafia pajak dan kisah melancongnya Gayus ke Bali menjadi sebuah tantangan tersendiri.  Korupsi adalah sebuah kejahatan tanpa korban (victimeless crime).  Namun sebagai extraordinary crime, korupsi menimbulkan efek kerusakan dan struktural yang luar biasa dengan korban yang bersifat massal.

Berita tentang Gayus semakin memperluas ketidakpercayaan publik (public distrust) pada pemerintah.  Hal ini semakin diperparah dengan fabrikasi media yang seolah-olah menggambarkan bahwa seluruh sistem reformasi birokrasi di Indonesia adalah buruk dan runtuh.  Mentalitas birokrasi dianggap sama bejatnya dengan para tokoh birokrat yang menjadi landscape budaya korupsi negeri ini.

Kasus dan ulah Gayus sejatinya harus menjadi cambuk bagi proses reformasi birokrasi.  Di tengah banyaknya nada pesimis dan intrik politik kotor yang melelahkan, mentalitas birokrasi yang bersih harus tetap dibangun.  Harus diakui bahwa masih banyak reformer di dalam tubuh birokrasi yang benar-benar mencintai negeri ini.  Mereka adalah orang-orang yang ingin menunjukkan bahwa reformasi birokrasi masih berjalan sebagaimana mestinya.

Rhenald Kasali, sebagai guru perubahan, pernah menulis tentang morale (spirit, kegigihan, dan kegairahan) yang harus dimiliki oleh para reformer birokrasi.  Paham yang mengatakan bahwa mentalitas semua birokrat keuangan sama bejatnya dengan Gayus adalah salah besar.  Manusia tidak bisa lagi dipandang sebagai komponen yang sama dan standar.  Manusia bukan lagi sebuah objek yang duduk dalam hierarki vertikal pada suatu jajaran birokrasi.  Para manusia reformer ini adalah makhluk hidup yang dilahirkan dengan nalar, kehendak, dan perasaan.

Menurut Rhenald, perubahan selalu datang bersama dengan penyangkalan, perlawanan, kecurigaan, dan pengkhianatan internal.  Perubahan tidak bergerak lincah seperti garis lurus yang mengikuti pola teratur.  Perubahan melewati lekuk liku kontur yang kadang menanjak, menurun, kemudian naik lagi.  Perubahan adalah sebuah dinamika.

Tidak semua orang dapat diajak berubah,  Ibarat menanam benih di sebuah ladang, para reformer birokrasi ini tidak perlu berambisi untuk menanami semua lahan dengan kebaikan.  Cukuplah menanam benih di tempat-tempat yang memang subur, biarkan batu-batu itu tetap ada.  Benih-benih yang tumbuh hijau ini akan menjadi pohon-pohon besar yang mengeluarkan biji.  Biji-biji ini akan dibawa angin, musang, tikus, dan seterusnya menambah area persebaran kebaikan.

Batu tetaplah batu, bukan tanah.  Tugas para reformer birokrasi bukan untuk melakukan pekerjaan sia-sia mengetuk batu, melainkan melindungi pohon-pohon yang tumbuh.  Sehingga seiring berjalannya waktu, keberadaan batu-batu itu tidak akan berarti lagi dibanding luasnya ladang kebaikan yang terbentang di tubuh birokrasi.

Apel-apel yang busuk harus dipisahkan dari apel yang masih baik dan segar.  Mentalitas birokrasi yang bersih harus terus dibangun di tubuh para reformer birokrasi.  Proses reformasi birokrasi di semua bidang adalah sebuah estafet yang tidak bisa dicapai dalam waktu singkat.

Banyak pengorbanan yang harus dilakukan oleh para reformer untuk mengurus negeri dalam masa transisi yang cukup pelik seperti sekarang ini.  Cukuplah Gayus menjadi ikon bobroknya birokrasi negeri ini.  Jangan pernah berputus asa untuk mencintai republik ini, karena kecintaan terhadap negeri inilah yang akan terus menjaga suara hati dan mentalitas aparat birokrasi.  (blog.akusukamenulis)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: