Ingatkan Aku Jika Aku Korupsi


Sejak adanya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kampanye anti korupsi semakin gencar. Kampanyae anti korupsi dilakukan melalui media mainstream seperti TV dan Harian maupun melalui media below the line seperti penyelenggaraan seminar dan pencetakan brosur-brosur. Saking gencarnya teman-teman di KPK, khususnya di Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat mengaku sangat sibuk. Menyelenggarakan pendidikan anti korupsi adalah salah satu tugas KPK. Akan tetapi tidak hanya KPK saja yang bertanggungjawab melakukannya. Perlu dukungan dari seluruh komponen masyarakat terlebih di bidang pendidikan.

Kenapa di bidang pendidikan? Karena di sekolah dan kampuslah karakter seseorang dibentuk untuk menjadi orang baik. Tidak ada satu institusi pendidikan yang mengajarkan korupsi. Saya heran ketika ada dosen yang dikejar-kejar wartawan lantaran mantan mahasiswanya korupsi. Terlebih tak satu rupiah pun yang ia terima dari hasil korupsi tersebut. Ketika siswa atau mahasiswa lulus dari tempat pendidikannya, ia telah menginjakkan kakinya di ‘dunia nyata’. Dunia yang bisa jadi tidak ‘ideal’ seperti yang terbayang waktu di kampus. Di dunia pekerjaan, seseorang akan bertemu banyak orang dengan berbagai kepentingannya. Meski banyak orang baik, tapi ada pula yang jahat. Intinya tidak semua orang baik. Awalnya kecil atau sedikit. Tapi, jumlah seperti itulah yang akan membuat orang ketagihan. Seperti orang yang kecanduan narkoba.

Kita perlu melakukan refleksi, apakah materi pengajarang Anti Korupsi di institusi pendidikan sudah tepat? Sekiranya materi anti korupsi yang ideal adalah mampu menggerakkan hati peserta didik dan bukan sekedar menghapal pasal-pasal Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Jika hanya menghapal dan mengetahui saja, malah bisa jadi korupsi yang dilakukan semakin rumit. Pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan bisa dipelintir. Orang malah semakin yakin bagaimana caranya agar korupsi tidak ketahuan. Mengapa hal itu sampai terjadi? Karena selama ini, barangkali pendidikan anti korupsi belum menyentuh hati dan masih menyentuh akal/logika saja. Mahasiswa perlu merasakan apa akibatnya jika dia korupsi nantinya. Mungkin perlu diadakan studi tour ke lembaga pemasyarakatan.

Pendidikan anti korupsi tidak hanya berhenti ketika mahasiswa wisuda atau yudisium. Karena saat mereka menghadapi ujian sebenarnya di tempat kerja, justru saat itulah mereka membutuhkan bimbingan. Di manapun, jika ada pegawai yang baru masuk, baik di sektor publik maupun swasta, akan rawan dengan tekanan, baik dari atasannya, senior maupun, publik. Seorang Account Representative (AR) di sebuah Kantor Pelayanan Pajak Pratama pernah bercerita kalau dia pernah dikasih uang map (lebih besar dari amplop) dari seorang wajib pajak. “Maaf Bu, di kanan kiri saya ada CCTV yang siap merekam apa yang ibu lakukan ini pada saya.” Serta merta map berisi uang tersebut ditarik. Kemudian Ibu itu bilang, “Maaf.” Dari universitas manapun, software antivirus korupsi secara default sudah terinstal di benak para mahasiswa. Hanya saja, anti virus itu tidak update. Kalau antivirus tidak update, maka komputer manapun akan ’sakit’. Perang antara antivirus dan virus sebenarnya adalah perlombaan, siapa dulu yang paling update.

Bagaimana cara meng-update-nya? Itu adalah pertanyaan yang bagus. Intinya peduli dengan lingkungan kita. Pimpinan yang bersih, bukan berarti bawahannya juga pasti bersih. Pemberantasan korupsi bisa mencontoh dakwah Nabi Muhammad shollallahu’alaihi wassalam yakni bottom-up model. Mulailah dari grassroot. Semua yang di atas bukankah berasal dari bawah. Sederhananya, jika ada teman kita yang korupsi, hendaknya kita mengingatkannya. Manusia itu lemah. Kalau ada orang yang pernah melakukan korupsi, bukan berarti mereka dulunya orang jahat. Mereka mungkin orang baik hanya terpengaruh lingkungan yang tidak baik dan akhirnya terpeleset. Jika saya mendapat godaan seperti mereka, tidak ada yang menjamin saya selamat kecuali Allah menghendakinya. Semoga kita senantiasa saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Siko Dian Sigit Wiyanto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: