Jawabnya ada di Musholla Ar Royyan (Part I)


Siang itu, panas terik, Tono baru saja pulang kuliah. Dia sempatkan sholat di Musholla Gedung I. Air Mancur di depan gerbang kampus seakan menguap saking panasnya. “Ton, nanti kita ngerjain paper Manajemen Keuangan Pemerintah ya. Besok kita harus presentasi, biar bisa lega di pertemuan-pertemuan selanjutnya.” Budi, Ahmad, Tono, dan Andang adalah satu kelompok. Tono mengangguk pelan sambil bergegas menuju kosannya. Email itu baru ia baca tadi pagi, embun-embun yang biasa menempel di jendela, seakan-akan gerah.

“Assalamu’aikum warohmatullahi wabaarokatuh. Akhi Tono, semoga dirahmati Allah. Syukron untuk sabar menunggu jawaban dari saya. Saya memang perlu waktu lama untuk membalas surat khitbah Antum. Saya susah bicarakan hal ini dengan kedua orangtua. Akhi Tono orang sholeh. Ana minta maaf, kedua orangtua saya belum mengijinkan saya untuk menikah. Jodoh itu misteri Akh. Jika Akh Tono ingin segera menikah, saya tidak bisa. Lagipula studi saya juga belum selesai. Semoga Antum bersedia menerima jawaban Ana. Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabaarokatuh”

Email itu masih Tono simpan di inbox. Tidak ada sebersit pun pikiran untuk menghapusnya. Anisa, adalah mahasiswa Sastra Inggris di sebuah Universitas terkemuka di Jogjakarta. Dialah akhwat yang menjadi dambaan Tono. Namun apadaya, ternyata cintanya tidak kesampaian. Tono bukan aktivis dakwah. Tapi Tono rajin sekali ikut kajian. Baginya, pacaran bukan hanya larangan bagi aktivis dakwah, tapi juga semua pemuda. Tono adalah mahasiswa tugas belajar dari instansi pemerintah pada sebuah Kementerian. Sebelumnya Tono bekerja di kantor di Ibu kota.

Butuh waktu memang untuk mengobati luka itu. Sesekali tetes air mata masih menetes dari pelupuk matanya, menimpa keybord laptop warna putihnya. Ikhwan juga boleh nangis kan? Biarlah tangisan itu menjadi pemadam kekecewaan yang menyala-nyala. Malam itu Tono masih membuka email dari Anisa setelah kerja kelompok dengan teman-teman kuliahnya.

“Sudahlah tho le, kalau belum jodohnya, Ibu yakin ada yang lebih baik dari Anisa. Ibu dan Bapak selalu mendoakanmu Nak. Semoga dirimu mendapat yang terbaik. Allah Maha Mendengar. Ingat janji Allah, ‘ud’uuni fastajiblakum’ (mintalah kepada-Ku, maka akan kuperkenankan bagimu)1. Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir2. Sholat istikhoroh, tahajud, dhuha jalan terus. Jangan lupa sodaqoh dan banyak-banyak istighfar agar Allah membuka rejekimu3, termasuk jodoh.”

Nasehat Ibu masih terngiang betul di telinga Tono. Sudah menjadi kebiasaannya untuk menelepon sekali seminggu ke rumah. Sekadar untuk menyapa orang serumah. Tanya ini, tanya itu, dan bla… bla… Tono memiliki rasa pada Anisa sejak ia bertemu pada sebuah kegiatan di kampusnya Anisa. Kebetulan waktu itu Tono diajak sahabatnya, Zulkifli yang juga menjadi panitia di acara tersebut. Zulkifli adalah ketua panitianya, sedangnkan Anisa adalah bendahara. Tono seringkali tanya-tanya mengenai Anisa kepada Zulkifli.

–4 bulan kemudian—-

Alhamdulillah, kejadian ini tidak terlalu membuat kuliah Tono terganggu. Tono berusaha keras untuk memisahkan urusan pribadinya dengan kuliah. Akhirnya Tono lulus dengan IPK cumlaude. Pada sebuah akhir pekan ia ingin pulang kampung. Dia berjanji bertemu Zulkifli di masjid kampus. “Maafkan aku Ton, aku ikut sedih sekali mendengar hal ini. Semoga dirimu mendapatkan yang lebih baik”, Zulkifli membuka obrolan di teras Masjid. Akasia itu menyiba-nyibak rantingnya terkena hembusan angin sepoi. Seperti anak kecil yang riang bertemu dengan teman-teman sebayanya.

“Iya Zul, aku sadar. Aku tidak tahu seperti apa perasaan Anisa terhadapku. Mungkin karena Anisa adalah anak satu-satunya, dan putri lagi, dia tidak bisa meninggalkan kedua orangtuanya sendirian. Bagaimanapun juga dia akhwat yang baik. Bisa jadi, ada ikhwan yang lebih baik untuknya. Sekaligus sebagai refleksi bagiku, banyak hal pada diri ini yang harus aku perbaiki. Karunia Allah itu luas. Ketika aku sudah melakukan yang terbaik, sudah menjalankan langkah-langkah dengan benar, kemudian bertawakkal kepada Allah, itu sudah cukup. Toh, semoga ini dihitung sebagai ibadah di hadapan Allah. Karunia Allah itu luas. Allah Maha Adil dan tidak akan dzolim kepada hamba-Nya”  Tono tampak tenang. Kemudian mereka membicarakan hal-hal lain, terutama mengenai kerjasama seminar yang akan diselenggarakan di Kampus Zulkifli.

“Zul, bareng aja Yuk, aku antar sampai rumah ya”  Tono menawarkan tumpangan kepada Zulkifli. Ba’da ashr, langit masih cerah, tapi udara mulai sejuk. Matahari tersenyum simpul. Tak sengaja Mereka berpapasan dengan Anisa. Assalamu’alaikum, Nisa, di sini rupanya mau ke mana?”. Tono mulai menyapa Nisa. Anisa tampak gugup, seakan tidak percaya dengan apa yang dia temui. Dia rupanya merasa bersalah. “Maafkan saya Mas.”. Bahkan Nisa pun lupa membalas salam Tono.

“Tidak apa-apa Nisa,”  Tono menjawab dengan tenang. Gadis itu tampak mematung menahan rasa bersalah. “Asalkan Nisa sudah istikhoroh sebelum mengambil keputusan, insyaAllah itu jalan yang terbaik.” Nisa masih belum beranjak. Matanya menunduk seakan menembus hati Tono, seakan tak percaya, Tono bisa setabah itu. Tapi itu hanya sebentar. “Assalamu’alaikum”, Tono membuyarkan lamunan Nisa.

Nisa sebenarnya tidak memiliki rasa kepada Tono. Dia sebenarnya menginginkan ketua SKI fakultasnya menjadi imamnya kelak. Nisa tidak mungkin mengungkapkannya kepada Tono. Perihal alasan tidak mau meninggalkan orangtua itu juga benar. Tapi alasan karena kurang ada rasa ketertarikan merupakan yang utama.

Dalam hati kecil pun, Tono sudah memikirkan kemungkinan itu. Jika Nisa lebih menyukai ikhwan lain, tak mengapa. Semoga dia bahagia dengan ikhwan tersebut. Toh, sekarang bagi Tono, kebahagiaan Nisa adalah nomor satu. Kalau nanti Nisa akad nikah Tono ingin sekali hadir di akad nikahnya. Kalau perlu dia ingin sekali menjadi panitia walimahannya Nisa.

—-seminggu kemudian—

Tono menghadiri kajian di Masjid Arroyyan. Kajian tersebut diadakan setiap Sabtu malam ba’da Maghrib. Masjid itu juga dekat dengan kosannya. Setiap hari Tono sholat berjamaah di sana. Dalam kajian, Ustad menerangkan tentang hadis mengenai tawakkal. Tawakkal itu datang setelah berusaha maksimal. Bukan pasrah begitu saja. Seperti halnya Nabi Muhammad shollallahu’alaihi wassalam yang mengingatkan

Azan Isya’ berkumandang. Ustad mengucapkan doa kafarotul majlis kemudian salam. Setelah sholat isya’ Tono melanjutkan doanya memohon untuk dikarunia jodoh yang terbaik. Saat dia mau beranjak pergi, tiba-tiba seorang Bapak mencegahnya. “Nak, siapa namamu?”, “Nama saya Tono Pak”. “Sudah bekerja?” “Alhamdulillah sudah”. “Saya sering sekali melihatmu di sini. Rumah saya ada di ujung jalan sana. Lain kali mampir ya?” “Terimakasih Pak, insyaAllah”

—-

(bersambung….)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: