Bercermin pada Mental “Gambaru” Jepang


 

Oleh  :  Nurfita Kusuma Dewi

 

Gempa berkekuatan 8,9 skala Richter yang mengguncang Jepang pada Jumat (11/3) ternyata tidak mampu merusak mental masyarakat Jepang.  Meski bencana terburuk paska Perang Dunia II ini mengakibatkan kelangkaan makanan dan listrik, tidak seorang pun warga yang berhak mengeluh atas kondisi yang ada.  Masyarakat Jepang dengan penuh kesadaran berbaris rapi di depan toko-toko untuk mengantri jatah makanan.  Warga hanya diperbolehkan membeli 10 produk makanan atau minuman.  Namun tidak ada yang curang, tidak ada penjarahan.

Kini radiasi yang timbul akibat meledaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Fukushima mengakibatkan Negeri Sakura itu berada di ambang bencana nuklir.  Militer dan petugas disiagakan di berbagai wilayah.  Sebanyak 180 pekerja PLTN Fukushima bahkan nekat bertahan dan berusaha menghentikan krisis nuklir dengan mempertaruhkan nyawa mereka.  Sejumlah relawan dan warga secara berkelompok mengorganisasi distribusi makanan dan tempat penampungan.  Rasa kebersamaan muncul di berbagai sudut Jepang.

Mental masyarakat Jepang yang tetap tenang meski dalam keadaan berkabung ini dipuji oleh berbagai masyarakat dunia. Kerusuhan dan ledakan emosi warga, yang notabene kerap terjadi di daerah bencana, tidak terjadi di Negeri Matahari ini.  Korban tsunami di Jepang sama menderita dan sakitnya dengan korban bencana lain di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.  Tapi mengapa masyarakat Jepang mampu menghadapi bencana ini dengan tegar dan berkabung dalam diam?

 

“Gambaru

Rouli Esther Pasaribu, seorang mahasiswa Indonesia di Jepang, yang sejak 14 Maret 2011 tulisannya beredar di berbagai situs dunia maya mengabarkan mental “Gambaru” di Jepang.  Gambaru dalam kamus Bahasa Jepang berarti “doko made mo nintai shite doryoku suru” atau bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha habis-habisan.  Gambaru mendidik masyarakat Jepang untuk berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan.  Persoalan yang hadir adalah sebuah kewajaran dalam hidup dan semuanya hanya bisa dihadapi dengan semangat Gambaru.

Selain Gambaru, sejak usia sangat dini masyarakat Jepang telah dicekoki dengan berbagai jargon.  “Ganbatte kudasai” adalah salah satu jargon yang yang kerap muncul di buku-buku komik remaja, mengajak untuk berjuang lebih baik.  Jargon lain yang kerap dilontarkan adalah “taihen dakedo, isshoni gambarimashoo”  (saya tahu ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama) atau “motto motto kenkyuu shitekudasai” (ayo bikin penelitian lebih  dan lebih lagi).  Maka tak heran jika orang Jepang selama ini dikenal sangat berdedikasi dalam tugasnya.

Rouli juga melaporkan tentang acara televisi Jepang yang jauh berbeda dengan siaran paska bencana di Indonesia.  Di Jepang tidak ada siaran televisi yang menampilkan tangisan anak negeri dan wajah-wajah penuh kepiluan korban bencana.  Siaran televisi paska gempa didominasi oleh infomasi terkait bencana seperti peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada, himbauan agar seluruh warga Jepang bahu-membahu dan menghemat listrik, bahkan permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa melakukan pemadaman listrik terencana.

Televisi tidak menyiarkan potret warga yang menimbulkan rasa iba, sebaliknya televisi berfungsi menyebarkan energi positif dan optimis ke seluruh Jepang.  Tips-tips menghadapi bencana alam, nomor telepon penting yang bisa dihubungi 24 jam, pengiriman tim SAR dari berbagai perfektur di Jepang menuju daerah-daerah korban bencana disiarkan, dan potret warga yang bahu membahu serta jargon-jargon semangat disiarkan ke seluruh Jepang.

 

Falsafah Bangsa

Jauh sebelum jargon “Gambaru” sampai di negeri ini, kata-kata motivator “Man Jadda Wajada” telah lebih dulu menjamur di kalangan masyarakat.  Mantera ajaib berbahasa Arab ini bermakna tegas “siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil!”  Kemudian “Man Shabara Zhafira” yang berarti “siapa yang bersabar akan beruntung” atau “Uthlubul Ilma Walau Bisshin” yang berarti “tuntutlah ilmu, bahkan walau ke negeri sejauh Cina.”  Toh semuanya mengajarkan tentang kebaikan, kesabaran, dan kegigihan dalam berjuang.

Lalu apakah bangsa ini hanya bermodalkan jargon-jargon “impor” dari luar negeri saja dalam berjuang mempertahankan hidup?  Tentu saja tidak.  Falsafah hidup masyarakat Indonesia dalam wayang sudah banyak dikaji oleh peneliti-peneliti dalam negeri dan luar negeri.  Sebut saja Semar, salah satu tokoh Punakawan.  Semar merupakan lambang tokoh yang bijaksana, memiliki kemampuan emosional yang tinggi serta mengarah pada ranah spiritual.

Amir Ma’ruf dalam bukunya menulis bahwa Semar adalah lambang rakyat jelata yang nrimo ing pangdum (Jagad Wayang, 2010).  Semar selalu berupaya untuk mampu menerima segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya.  Kearifan Semar ini pula yang menjadi pokok pikiran masyarakat di Jogja dan Jawa Tengah.  Kecerdasan hati dalam menghadapi bencana ini tampak ketika gempa berkekuatan 5,6 SR mengguncang Jogja beberapa tahun lalu.  Masyarakat Jogja waktu itu menerima cobaan bencana alam dengan nrimo, tidak banyak kerusuhan yang terjadi.  Bahkan ketika warga Jogja bisa melakukan demo untuk mendapatkan ganti rugi atas bencana kepada pemerintah, mereka dengan tenang menanggapi “Sing penting slamet, urip kiy mung mampir ngombe.”

Bercermin adalah sikap yang lebih bijak.  Masing-masing bangsa memiliki roh dan etos kerja tersendiri yang khas.  Negeri yang pernah dikenal sebagai “Zamrud Khatulistiwa” ini pun pernah dilanda tsunami di Aceh, gempa bumi di Padang, serta letusan Gunung Merapi yang tidak gampang untuk dihadapi oleh masyarakat bumi ini.  Ambil sisi positif dari falsafah hidup bangsa lain dan hilangkan sifat-sifat buruk yang membudaya di negeri ini.  Jika sikap kita justru mengunggul-unggulkan mental bangsa lain tanpa bermaksud mengubah falsafah hidup sendiri, lha opo tumon?  (blog.akusukamenulis)

1 Comment (+add yours?)

  1. ririsuchan
    Mar 21, 2011 @ 15:56:45

    Mental.
    Saya jadi ingat, salah satu buku yang sedang saya baca berjudul “Aku Bisa” (merupakan kumpulan artikel yg memotivasi). Tentang proses pembelajaran, bagaimana negara ini dengan mudah menyalahkan elemen pendukung pendidikan (dosen, kurikulum, sekolah atau lembaga) tanpa menyadari bahwa selama ini yang salah adalah proses pembelajarannya. Termasuk dalam hal ini : falsafah, proses pembelajaran atas falsafah tersebut harus menjadi perhatian bersama. Bagaimana agar falsafah hidup yg dimiliki negara ini menjadi energi positif yang menunjukkan pribadi masyarakatnya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: