Menilik Kembali Strategi Pengelolaan Utang Indonesia

Salah satu tujuan penerapan strategi pengelolaan utang adalah mengelola risiko yang timbul dari komposisi outstanding portofolio utang negara. Risiko-risiko tersebut antara lain adalah risiko kesinambungan fiskal, risiko perubahan tingkat bunga, risiko pembiayaan kembali, dan risiko operasional. Sejak Tahun 2005 sampai sekarang risiko portofolio utang terus dikelola. Hal ini diperkuat dengan landasan hukum berupa Keputusan Menteri Keuangan (KMK) No No 447/KMK.06/2005 tentang tentang Strategi Pengelolaan Utang Negara tahun 2005 – 2009 dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 514/KMK.08/2010 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Keuangan nomor 380/KMK08/2010 tentang Strategi Pengelolaan Utang Negara Tahun 2010-2014.

Secara umum tujuan pengeloaan utang berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 514/KMK.08/2010 antara lain adalah mengamankan kebutuhan pembiayaan APBN melalui utang dengan biaya minimal pada tingkat risiko terkendali, sehingga kesinambungan fiskal dapat terpelihara. Terkait dengan kesinambungan fiskal, Mengambil definisi yang sederhana, suatu anggaran fiskal dikatakan berkesinambungan jika hingga jangka waktu yang tak terhingga, rasio penerimaan dan aset (atau utang) pemerintah terhadap PDB minimal mampu membiayai total pengeluaran pemerintah per PDB (Romer, 2002). Hal ini sudah tercapai, meski demikian masih ada catatan. Pada APBN 2011 Belanja Bunga Utang telah mencapai 115,2 Triliun rupiah dan cicilan pokok Indonesia  mencapai 114 Triliun Rupiah.

Berdasarkan kategori Bank Dunia, Indonesia Bank, pada tahun 2008, Indonesia masuk dalam kategori lIII, yaitu negara-negara dengan penghasilan menengah (middle income countries). Indonesia juga tergolong masuk pada negara dengan utang tinggi meski pada level penghasilan menengah. Hal ini tentu saja merongrong sustainability perekonomian Indonesia.

Perlu diperhatikan pula terkait tujuan strategi pengelolaa utang yang isinya antara lain memiasilitasi penyusunan indikator kinerja  utama (KPI)/(Key Performance Indicator) unit pengelola utang. Unit pengelola yang dimaksud adalah Direktorat Surat Utang Negara (Dir. SUN) dan Direktorat Pembiayaan Syariah. Kedua Direktorat tersebut berada di bawah Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang. KPI

Oleh karena  itu ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengadaan pembiayaan dari utang. Hal-hal tersebut antara lain.

a.         Pertumbuhan kepemilikan obligasi domestik oleh investor institusi tidak sepenuhnya sejalan dengan pertumbuhan ekonomi;

Pada dasarnya pertumbuhan ekonomi diharapkan berbanding lurus dengan pertumbuhan kepemilikan kepemilikan domestik oleh investor institusi. Tapi dalam pasar Surat Berharga Negara, adakalanya harga SBN jatuh yang mengakibatkan para investor lebih suka menanamkan modalnya di intrumen lain. Lebih dari itu, SBN sebagian besar berisi fixed rate yang bunganya kalah menjanjikan daripada obligasi di luar negeri menyebabkan arus dana keluar (capital outflow). Peristiwa ini secara langsung dan tidak langsung mengganggu kestabilan ekonomi makro.

b.         Penerbitan obligasi valas berpotensi meningkatkan risiko nilai tukar meskipun sebagai alternatif untuk menghindari crowding out effect;

Obligasi valas diterbitkan dengan tujuan mencari dana dari luar negeri untuk menutup defisit APBN. Sejak TA 2004, negara menerbitkan SBN valas dan pembiayaan pada tahun tersebut ekuivalen dengan 9 triliun rupiah. Pembiayaan defisit dengan menggunakan SBN valas pada APBN-P 2010 sebesar ekuivalen dengan 41.4 triliun rupiah. Dengan kata lain dalam enam tahun anggaran, pembiayaan valas telah meningkat sebesar 400%. Besarnya SBN dalam bentuk valas ini sangat rentan sekali terhadap perubahan nilai tukar terutama terhadap dolar Amerika yang nilainya sangat fluktuatif. Pada akhir 2008, dolar Amerika kembali menyentuh angka Rp15.000 yang sebelumnya hanya terjadi saat krisis moneter 97/98. Depresiasi rupiah atas valas dalam SBN akan menambah jumlah beban utang.

Penerbitan obligasi valas sebenarnya bertujuan untuk menata portofolio SBN dengan maksud menghindari crowding out effect. Jika tidak dilakukan pencegahan terhadap penerbitan SBN yang berlebihan, dikhawatirkan sumber dana investasi untuk swasta akan tersedot di SBN. Akibatnya adalah sektor usaha tidak bisa mendapatkan sumber pembiayaan. Kalaupun ada harganya/bunga sangat mahal. Lagipula investasi pada SBN dijamin dengan undang-undang yang membuat investor lebih tertarik menenamkan modalnya.

c.         Target penerbitan yang terlalu besar pada akhirnya dapat mendorong naiknya imbal hasil investor;

Penerbitan SBN yang terlalu  besar akan mendorong bertambahnya beban bunga serta diskonto yang diberikan kepada investor. Pada APBN 2011 beban bunga yang ditanggung pemerintah adalah Rp115,2 triliun. Bahkan jika dibandingkan dengan belanja subsidi APBN 2011 yang sebesar Rp187,6 triliun, jumlah tersebut mencapai 61% dari belanja bunga utangnya. Bahkan jika kita melihat jadwal masa jatuh tempo SUN pada TA 2033, jumlahnya mencapai Rp127 triliun. SBN tersebut berjenis SRBI-001 dari Bank Indonesia. Pembiayaan itu digunakan untuk Bantuan Likuiditas Bank Indonesia pada tahun 1998. Jadi dapat diperkirakan APBN kita pada 2033 akan mengalami defisit yang cukup berat.

d.         Ketersediaan pinjaman tunai (pinjaman program) semakin berkurang

Pinjaman program yang sifatnya lebih fleksibel daripada pinjama proyek, jumlahnya semakin berkurang. Hal ini berpengaruh terhadap penempatan dana tersebut pada kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya. Senbaliknya pinjaman proyek yang mengkhususkan suatu proyek kurang baik jika digunakan untuk membiayai defisit. Pinjaman proyek cenderung ‘mendikte’ dan ekses positif yang diharapkan kurang karena seringkali kreditur memberi syarat bahwa barang/jasa harus dari negara mereka. Mau tidak mau penerbitan SBN menjadi alternatif.

e.         Perlu menjaga stabilitas ekonomi nasional meski sudah disusun crisis management protocol

Menurut KMK 514 tahun 2008 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan nomor 380/KMK08/2010 tentang Strategi Pengelolaan Utang Negara Tahun 2010-2014, Crisis Management Protocol merupakan protokol yang disusun dengan tujuan untuk mengantisipasi adanya krisis di pasar SUN yang disebabkan oLeh berbagai faklor diantaranya adalah keluarnya investor asing (non-residence) atau penjualan oleh investor domestik (contoh krisis reksadana) dan pasar SUN secara besar-besaran baik yang disebabkan karena situasi pasar dalam negeri maupun luar negeri, yang akan menyebabkan harga SUN jatuh secara signifikan dalam waktu singkat.

Stabilitas ekonomi nasional penting untuk menjaga trust investor dan menjaga peringkat investasi Indonesia di tingkat dunia. Dalam Buku Saku Perkembangan Utang Negara Edisi Januari 2011, Tanggal 14 Oktober 2010, disebutkan bahwa R & I merubah outlook Indonesia dari Stable menjadi Positive dengan peringkat BB+, adapun highlight dari R & I antara lain sebagai berikut:

“The outlook revision and rating affirmation reflects that Indonesia is considered successful in maintaining high growth despite the global financial turmoil. R&I believes an upgrade to the „investment grade‟ or BBB rating category is possible once Indonesia is set to sustain balanced economic growth by boosting investment in infrastructure.”

Imbas naiknya peringkat Indonesia di pasar modal dunia membuat biaya pinjaman menjadi lebih murah karena risiko Indonesia dianggap lebih rendah. Indonesia sekarang ini hanya satu tingkat di bawah investment grade.

f.          Masalah pinjaman siaga

Pinjaman siaga bertujuan untuk antisipasi sulitnya memperoleh pembiayaan di tengah krisis global akibat subprime mortgage. Indonesia mendapatkan fasilitas pinjaman siaga sebesar 5,5 miliar dolar AS, yaitu dari Bank Dunia 2 miliar dolar AS, Jepang 1,5 miliar dolar AS, Australia 1 miliar dolar AS, dan ADB 1 miliar dolar AS. Masalah utamanya adalah, meskipun pinjaman tersebut tidak diambil, tetap ada biaya komitmen yang harus ditanggung pemerintah.

g.         Kendala pada pembiayaan syariah

Kebijakan pembiayaan syariah dengan mengeluarkan Surat Berharga Negara (SBN Syariah) merupakan upaya pemerintah memperluas basis investor. Investor yang memegang tegus prinsip syariah tidak mau berinvestasi pada SBN konvensional yang menggunakan bunga. Oleh karena itu, para investor yang demikian mau berinvestasi pada Surat Berharga Negara Syariah atau yang sering dikenal dengan istilah sukuk.

Sukuk yang diterbitkan oleh Direktorat Pembiayaan Syariah sekarang ini barulah sukuk ijaroh. Sukuk ijaroh adalah Sukuk Ijarah adalah sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad Ijarah dengan satu pihak bertindak sendiri atau melalui wakilnya menjual atau menyewakan hak manfaat atas suatu aset kepada pihak lain berdasarkan harga dan periode yang disepakati, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan aset itu sendiri.

Dalam praktiknya asset yang digunakan untuk menerbitkan sukuk ini menggunakan Barang Milik Negara (BMN). Penilaian diperlukan sebelum adanya penerbitan sukuk. Jumlah BMN pun terbatas, sehingga BMN yang digunakan sebagai underlying asset untuk penerbitan sukuk juga terbatas. Permasalahan lainnya adalah terkait dengan penerbitan Sukuk Dana Haji Indonesia. Digunakannya jasa penyelenggaraan haji sebagai underlying asset merupakan perdebatan diantara para pemuka agama Islam. Meski sudah ada fatwa dari MUI terkait hal tersebut, tetap saja masih menjadi perselisihan.

Untuk mengatasi berbagai permasalah tersebut, pemerintah perlu melakukan beberapa langkah. Pertama, terkait dengan kepemilikan obligasi domestik, perlu peningkatan promosi surat berharga negara dan menerbitkan seri obligasi ritel agar investor kelas bawah seperti masyarakat umum dapat membelinya. Langkah ini sekaligus sebagai alternatif untuk mengurangi crowding out effect. Hal ini memungkinkan karena dana masyarakat yang digunakan untuk membeli Obligasi Ritel Indonesia maupun Sukuk Ritel Indonesia, pada umumnya berasal dari saving. Berbeda dengan bank mapun lembaga keuangan yang menggunakan dananya untuk menggerakkan sektor riil.

Penerbitan Surat Berharga Negara perlu dibatasi. Indikator Pendapatan Domestik Bruto tidak serta merta menambah penerimaan negara. Jadi indikator yang digunakan adalah belanja bunga dan cicilan dibagi dengan penerimaan negara. Obligasi negara dengan suku bunga tetap sebaiknya dipertahankan mendominasi karena perencanaannya lebih pasti dan mengurangi biaya kontigensi kedepannya. Struktur tersebut untuk menjaga tingkat risiko perubahan suku bunga pada tataran yang dapat dikendalikan. Penerbitan SUN  sebaiknya tidak lagi menjadi KPI Direktorat Surat Utang Negara. Demikian pula dengan penerbitan sukuk, sebaiknya tidak lagi menjadi KPI Direktorat Pembiayaan Syariah. KPI dapat diambil dari efektifitas dan efisiensi dalam pengelolaan Surat Berharga Negara yang dikelola oleh kedua unit kerja eselon II DJPU tersebut.

Berkurangnya pinjaman program mengharuskan Indonesia melakukan negosiasi dengan lembaga multilateral atau menjalin kerjasama bilateral dengan negara-negara kaya. Cukup memungkinkan jika dilakukan kerjasama dengan negara timur tengah terlebih skema pembiayaan sukuk. Terlebih pemerintah sebuah memiliki perangkat hukum yang cukup lengkap dan unit yang menanganinya.

Perlu dihindari rescheduling utang dalam negeri karena dapat menurunkan peringkat investasi Indonesia. Jika peringkat investasi Indonesia turun, maka biaya penarikan pinjaman akan naik. Perlu adanya jaminan politik dari pemerintah dalam hal menciptakan situasi kondusif di dalam negeri. Sangat mudah bagi investor asing menjual SBN di pasar sekunder dan kemudian menimbulkan capital outflow.

Pemerintah tidak perlu melakukan pinjaman siaga terlebih saat situasi ekonomi sudah pulih seperti sekarang. Terkait dengan pembiayaan syariah, perlu mekanisme selain ijaroh. Mekanisme penerbitan sukuk selain ijarah adalah sukuk Mudharabah, sukuk istisna’, dan sukuk musyarakah. Dengan demikian tidak perlu lagi menerbitkan sukuk kontroversial seperti SDHI.

Jawabnya ada di Musholla Ar Royyan (Part I)

Siang itu, panas terik, Tono baru saja pulang kuliah. Dia sempatkan sholat di Musholla Gedung I. Air Mancur di depan gerbang kampus seakan menguap saking panasnya. “Ton, nanti kita ngerjain paper Manajemen Keuangan Pemerintah ya. Besok kita harus presentasi, biar bisa lega di pertemuan-pertemuan selanjutnya.” Budi, Ahmad, Tono, dan Andang adalah satu kelompok. Tono mengangguk pelan sambil bergegas menuju kosannya. Email itu baru ia baca tadi pagi, embun-embun yang biasa menempel di jendela, seakan-akan gerah.

“Assalamu’aikum warohmatullahi wabaarokatuh. Akhi Tono, semoga dirahmati Allah. Syukron untuk sabar menunggu jawaban dari saya. Saya memang perlu waktu lama untuk membalas surat khitbah Antum. Saya susah bicarakan hal ini dengan kedua orangtua. Akhi Tono orang sholeh. Ana minta maaf, kedua orangtua saya belum mengijinkan saya untuk menikah. Jodoh itu misteri Akh. Jika Akh Tono ingin segera menikah, saya tidak bisa. Lagipula studi saya juga belum selesai. Semoga Antum bersedia menerima jawaban Ana. Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabaarokatuh”

Email itu masih Tono simpan di inbox. Tidak ada sebersit pun pikiran untuk menghapusnya. Anisa, adalah mahasiswa Sastra Inggris di sebuah Universitas terkemuka di Jogjakarta. Dialah akhwat yang menjadi dambaan Tono. Namun apadaya, ternyata cintanya tidak kesampaian. Tono bukan aktivis dakwah. Tapi Tono rajin sekali ikut kajian. Baginya, pacaran bukan hanya larangan bagi aktivis dakwah, tapi juga semua pemuda. Tono adalah mahasiswa tugas belajar dari instansi pemerintah pada sebuah Kementerian. Sebelumnya Tono bekerja di kantor di Ibu kota.

Butuh waktu memang untuk mengobati luka itu. Sesekali tetes air mata masih menetes dari pelupuk matanya, menimpa keybord laptop warna putihnya. Ikhwan juga boleh nangis kan? Biarlah tangisan itu menjadi pemadam kekecewaan yang menyala-nyala. Malam itu Tono masih membuka email dari Anisa setelah kerja kelompok dengan teman-teman kuliahnya.

“Sudahlah tho le, kalau belum jodohnya, Ibu yakin ada yang lebih baik dari Anisa. Ibu dan Bapak selalu mendoakanmu Nak. Semoga dirimu mendapat yang terbaik. Allah Maha Mendengar. Ingat janji Allah, ‘ud’uuni fastajiblakum’ (mintalah kepada-Ku, maka akan kuperkenankan bagimu)1. Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir2. Sholat istikhoroh, tahajud, dhuha jalan terus. Jangan lupa sodaqoh dan banyak-banyak istighfar agar Allah membuka rejekimu3, termasuk jodoh.”

Nasehat Ibu masih terngiang betul di telinga Tono. Sudah menjadi kebiasaannya untuk menelepon sekali seminggu ke rumah. Sekadar untuk menyapa orang serumah. Tanya ini, tanya itu, dan bla… bla… Tono memiliki rasa pada Anisa sejak ia bertemu pada sebuah kegiatan di kampusnya Anisa. Kebetulan waktu itu Tono diajak sahabatnya, Zulkifli yang juga menjadi panitia di acara tersebut. Zulkifli adalah ketua panitianya, sedangnkan Anisa adalah bendahara. Tono seringkali tanya-tanya mengenai Anisa kepada Zulkifli.

–4 bulan kemudian—-

Alhamdulillah, kejadian ini tidak terlalu membuat kuliah Tono terganggu. Tono berusaha keras untuk memisahkan urusan pribadinya dengan kuliah. Akhirnya Tono lulus dengan IPK cumlaude. Pada sebuah akhir pekan ia ingin pulang kampung. Dia berjanji bertemu Zulkifli di masjid kampus. “Maafkan aku Ton, aku ikut sedih sekali mendengar hal ini. Semoga dirimu mendapatkan yang lebih baik”, Zulkifli membuka obrolan di teras Masjid. Akasia itu menyiba-nyibak rantingnya terkena hembusan angin sepoi. Seperti anak kecil yang riang bertemu dengan teman-teman sebayanya.

“Iya Zul, aku sadar. Aku tidak tahu seperti apa perasaan Anisa terhadapku. Mungkin karena Anisa adalah anak satu-satunya, dan putri lagi, dia tidak bisa meninggalkan kedua orangtuanya sendirian. Bagaimanapun juga dia akhwat yang baik. Bisa jadi, ada ikhwan yang lebih baik untuknya. Sekaligus sebagai refleksi bagiku, banyak hal pada diri ini yang harus aku perbaiki. Karunia Allah itu luas. Ketika aku sudah melakukan yang terbaik, sudah menjalankan langkah-langkah dengan benar, kemudian bertawakkal kepada Allah, itu sudah cukup. Toh, semoga ini dihitung sebagai ibadah di hadapan Allah. Karunia Allah itu luas. Allah Maha Adil dan tidak akan dzolim kepada hamba-Nya”  Tono tampak tenang. Kemudian mereka membicarakan hal-hal lain, terutama mengenai kerjasama seminar yang akan diselenggarakan di Kampus Zulkifli.

“Zul, bareng aja Yuk, aku antar sampai rumah ya”  Tono menawarkan tumpangan kepada Zulkifli. Ba’da ashr, langit masih cerah, tapi udara mulai sejuk. Matahari tersenyum simpul. Tak sengaja Mereka berpapasan dengan Anisa. Assalamu’alaikum, Nisa, di sini rupanya mau ke mana?”. Tono mulai menyapa Nisa. Anisa tampak gugup, seakan tidak percaya dengan apa yang dia temui. Dia rupanya merasa bersalah. “Maafkan saya Mas.”. Bahkan Nisa pun lupa membalas salam Tono.

“Tidak apa-apa Nisa,”  Tono menjawab dengan tenang. Gadis itu tampak mematung menahan rasa bersalah. “Asalkan Nisa sudah istikhoroh sebelum mengambil keputusan, insyaAllah itu jalan yang terbaik.” Nisa masih belum beranjak. Matanya menunduk seakan menembus hati Tono, seakan tak percaya, Tono bisa setabah itu. Tapi itu hanya sebentar. “Assalamu’alaikum”, Tono membuyarkan lamunan Nisa.

Nisa sebenarnya tidak memiliki rasa kepada Tono. Dia sebenarnya menginginkan ketua SKI fakultasnya menjadi imamnya kelak. Nisa tidak mungkin mengungkapkannya kepada Tono. Perihal alasan tidak mau meninggalkan orangtua itu juga benar. Tapi alasan karena kurang ada rasa ketertarikan merupakan yang utama.

Dalam hati kecil pun, Tono sudah memikirkan kemungkinan itu. Jika Nisa lebih menyukai ikhwan lain, tak mengapa. Semoga dia bahagia dengan ikhwan tersebut. Toh, sekarang bagi Tono, kebahagiaan Nisa adalah nomor satu. Kalau nanti Nisa akad nikah Tono ingin sekali hadir di akad nikahnya. Kalau perlu dia ingin sekali menjadi panitia walimahannya Nisa.

—-seminggu kemudian—

Tono menghadiri kajian di Masjid Arroyyan. Kajian tersebut diadakan setiap Sabtu malam ba’da Maghrib. Masjid itu juga dekat dengan kosannya. Setiap hari Tono sholat berjamaah di sana. Dalam kajian, Ustad menerangkan tentang hadis mengenai tawakkal. Tawakkal itu datang setelah berusaha maksimal. Bukan pasrah begitu saja. Seperti halnya Nabi Muhammad shollallahu’alaihi wassalam yang mengingatkan

Azan Isya’ berkumandang. Ustad mengucapkan doa kafarotul majlis kemudian salam. Setelah sholat isya’ Tono melanjutkan doanya memohon untuk dikarunia jodoh yang terbaik. Saat dia mau beranjak pergi, tiba-tiba seorang Bapak mencegahnya. “Nak, siapa namamu?”, “Nama saya Tono Pak”. “Sudah bekerja?” “Alhamdulillah sudah”. “Saya sering sekali melihatmu di sini. Rumah saya ada di ujung jalan sana. Lain kali mampir ya?” “Terimakasih Pak, insyaAllah”

—-

(bersambung….)

Bulan-Bulanan Isu

Masih ingat kejadian beberapa Minggu yang lalu, saya pulang dengan kereta Senja Utama Solo disambung bis dari Solo ke Kecamatan Jumapolo, Kabupaten sekitar 20 km dari pusat kota Solo. Di tengah perjalanan, naiklah beberapa Ibu beserta anaknya. Saat yang bersamaan ada seorang penjual koran memasuki bus dan mulai berteriak “Bapak-bapak! Ibu-Ibu! berita mengenai perkembangan kasus century….”. Kemudian terdengarlah sahutan satu diantara Ibu-Ibu tadi, “Oh, kalau kasus century saya tidak ketinggalan. Favorit saya adalah stasiun TV XXXXX dan XXXXXXX”. Saya tidak kaget mendengar jawaban Ibu tadi karena kedua stasiun televisi nasional swasta itulah yang paling gencar mengangkat isu tersebut ke publik, atau barangkali hanya mereka saja yang bersemangat.

Sudah tidak asing lagi atau sudah jadi rahasia umum bahwa media merupakan sarana ampuh untuk membentuk opini publik. Apalagi jika media tersebut memiliki oplah atau konsumen yang besar. Media tahu betul bagaimana harus menyajikan suatu isu ke tengah publik. Sebuah peristiwa atau isu tidak akan menarik jika pemberitaannya dimuat secara menyeluruh. Media akan lebih suka memotong-motong kebenaran sehingga rentan terciptanya bias informasi. Media independen akan mengupas suatu isu secara komprehensif dengan menampilkan seluruh angel. Jadi  pernyataan opinion leader kontra atau yang pro saja yang dimuat. Pemberitaan yang baik harus dapat menampilkan kedua sisi (cover both side).

Redaksi media sangat menentukan komposisi dan rasa penyajian suatu berita. Jadi sangat wajar apabila ada suatu media seakan-akan memiliki tendensi kepada kepentingan salah partai politik. Apalagi yang memilikinya adalah salah satu pembesar partai politik itu sendiri. Selain itu, Setiap media memiliki visi masing-masing. Setiap penyajian informasi yang ada didalamnya sebisa mungkin diselaraskan dengan visi yang telah ditetapkan. Misalnya, jika suatu media memiliki visi menjadi sumber informasi dan inspirasi bisnis untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa, maka isi beritanya tidak boleh memuat unsur-unsur politis atau infotainment. Pemilihan kata-kata dalam penulisan berita dapat menimbulkan persepsi yang berbeda.

Satu hal yang mendasar untuk diperhatikan adalah sikap publik atas suatu isu yang berkembang. Jangan sampai bangsa kita hidup dengan satu isu kemudian pindah ke isu yang telah dibentuk media. Bahkan publik hendaknya memiliki sikap kritis terhadap isi pemberitaan. Terlebih, apabila isi berita menimbulkan keraguan kuat karena tidak didukung data yang jelas. Publik yang cerdas adalah yang dapat memilah dan memilih mana isu penting dan mana isu komoditas kepentingan. Barangkali isu skimming/pembobolan ATM malah lebih penting daripada isu dugaan penyalahgunaan wewenang bailout Bank Century.

Isu Skimming kartu ATM telah menimbulkan kerugian materi yang nyata. Publik mendapatkan manfaat dari munculnya isu ini yaitu setidak-tidaknya dapat lebih waspada dalam bertransaksi dengan mesin tersebut. Di lain sisi, isu bailout century baru seputar dugaan dan tidak semua orang tahu duduk permasalahan yang sebenarnya. Lagipula sekarang perekonomian sudah stabil, inflasi telah mencapai titik terendah selama satu dekade terakhir.

Sikap berlebihan terhadap isu tersebut malah dapat menimbulkan instabilitas terlebih sistem perekonomian kita adalah sistem perekonomian terbuka. Suatu isu dapat mengakibatkan naik turunnya nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG). Penuntasan kasus Century semoga dapat dilakukan secara adil, obyektif dan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dan bukan karena nafsu ingin menjatuhkan. Rakyat tengah menanti hasil dari penggunaan uang negara sebesar lima miliar untuk menuntaskan kasus ini.

Siko Dian Sigit Wiyanto

Pendidikan Karakter untuk Mengatasi Korupsi

 

Oleh  :  Nurfita Kusuma Dewi

dimuat di Koran Wawasan 19 Maret 2011

.

“Education is the most powerful weapon that you can use to change the world.” Pendidikan, bagi seorang Nelson Mandela, adalah senjata yang sangat ampuh untuk dapat mengubah dunia.  Kalimat ‘sakti’ pejuang antidiskriminasi ini ternyata tidak hanya diamini oleh kaum sebangsanya, namun juga bangsa-bangsa lain di dunia.  Pendidikan adalah ujung tombak perubahan sebuah bangsa, bahkan dunia. More

Next Newer Entries