Tradisi Menulis di Kalangan Mahasiswa


Segenap Panitia Confess 2011 mengucapkan selamat kepada Saudari
Nurfita Kusuma Dewi Juara 1 Lomba Blog Nasional Depkominfo BEM STAN
Semoga dapat menambah motivasi untuk terus menulis dan berkarya..
Terima kasih

Menkominfo BEM STAN

.

Oleh  :  Nurfita Kusuma Dewi

Di era perkembangan dunia tulis menulis yang menggeliat pasca era reformasi, peran mahasiswa sejatinya dituntut untuk tampil sebagai subjek dalam dunia literasi.  Kenyataan bahwa tidak sedikit koran yang secara khusus menyediakan rubrik untuk tulisan mahasiswa adalah bukti bahwa ruang penegasan ide, pemikiran, kegundahan, dan idealisme kini terbuka lebar.

Namun kesempatan emas ini belum sepenuhnya disambut oleh mahasiswa.  Sebagian besar mahasiswa lebih memilih untuk menjadi konsumen akhir dan pembaca pasif tanpa ikut ambil bagian untuk artikel atau opini di media massa.  Agus M. Irkham, seorang penggiat literasi, mengatakan bahwa kegiatan menulis dan membaca masih mengalami penyempitan makna.  Membaca bagi mahasiswa dimaknai sebagai kegiatan yang berkaitan dengan tabloid, majalah, atau pun komik.  Sedangkan menulis diartikan sebagai mencatat materi kuliah, menjawab soal ujian tertulis, menyusun laporan praktikum, atau membuat laporan pertanggungjawaban.  Mahasiswa tumbuh menjadi lost generation yang bersikap tak acuh terhadap tantangan-tantangan intelektual.

Ketika fenomena literasi ini dipertanyakan alasannya, sebagian besar mahasiswa menganggap bahwa menulis adalah pekerjaan sulit.  Menulis di media massa membutuhkan kaidah-kaidah resmi, kejelian menentukan tema, sumber data, bahkan “bakat khusus” untuk menuangkan ide dalam kata-kata.  Tapi benarkah mahasiswa tidak mampu menulis artikel atau opini di media massa?  Ataukah sekedar tidak mau?

Budaya Literasi

Data Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) 2001 dan 2006 memperlihatkan bahwa tingkat literasi anak-anak Indonesia usia 9-15 tahun sangat rendah, berada di peringkat lima terbawah sedunia (Kompas, 23 November 2010).  Memang belum ada penelitian internasional yang menguji tingkat literasi mahasiswa di Indonesia, namun data di atas cukup menunjukkan minimnya gairah literasi bangsa ini.

Budaya membaca yang efektif adalah membaca yang disertai pula dengan keinginan untuk menceritakan kembali, lisan maupun tulisan.  Ketika seseorang menulis maka ia membaca, ketika ia membaca maka ia menulis.

Membaca serupa dengan kegiatan konsumtif, mengeluarkan uang untuk membeli dan melahap isi sebuah buku.  Sebaliknya menulis adalah kegiatan produktif yakni menghasilkan sesuatu untuk orang lain sesuai dengan pemahaman yang dimiliki.  Hampir mustahil menemukan mahasiswa yang bisa menulis artikel atau opini tanpa kegemaran membaca.  Membaca adalah modal.  Modal kehidupan kepenulisan.

Motivasi Menulis

     Artikel atau opini adalah salah satu bentuk komunikasi yang diciptakan antara penulis dan pembaca.  Dalam menulis artikel atau opini, seorang mahasiswa dituntut untuk menyajikan sebuah tulisan yang sistematis, logis, akurat, dan jelas sehingga mudah dimengerti dan dipahami oleh masyarakat umum.

Lingkungan akademisi memiliki peran strategis untuk menciptakan iklim menulis.  Selain pemberian teori dan materi kepenulisan, kampus hendaknya juga mendorong mahasiswa untuk terus berlatih menulis secara kontinyu.  Mahasiswa yang sedang menulis, sejatinya ia adalah seorang yang tengah melakukan proses berpikir secara cermat.  Maka menulis opini di koran relevan dengan tradisi akademis, sebagai seorang mahasiswa, harus selalu berlatih untuk berpikir tanpa henti.

Pada awalnya, biarkan tulisan mahasiswa mengalir apa adanya tanpa ada aturan yang ketat.  Menulis artikel atau opini membutuhkan tekad dan kesabaran.  Saat tulisan yang dikirim ternyata ditolak maka jangan mudah putus asa.  Jika gagal, maka bangkit, terus mencoba, dan terus menulis.  Peningkatan keterampilan menulis yang diperoleh mahasiswa bukan merupakan hasil orang per orang (by nature) melainkan lahir dari sebuah sistem (by design) yang sengaja diciptakan, saling melengkapi, dan terukur.

Ada beberapa hal yang dapat disediakan oleh kampus untuk meningkatkan tradisi menulis di koran dalam kalangan mahasiswa.  Pertama, menambahkan academic writing sebagai mata kuliah tambahan atau pilihan.  Kedua, memberikan apresiasi tambahan nilai kepada mahasiswa yang tulisannya berhasil menembus koran.  Ketiga, mengadakan lomba menulis opini antarmahasiswa sekampus.  Keempat, penyelenggaraan workshop kepenulisan.  Yang terakhir, memberikan beasiswa bagi mahasiswa yang aktif menulis di koran atau bahkan yang telah menulis sebuah buku.

Mahasiswa yang membiasakan diri untuk menulis sebenarnya telah berlatih banyak hal secara intelektual, sosial, dan emosional.  Dari tulisan yang dibuatnya, kecerdasan dan kesehatan mahasiswa dapat dilihat. Oleh karena itu, mahasiswa seharusnya menulis artikel atau opini yang sehat yakni menginspirasi ide, mencerahkan jiwa, dan membersihkan nurani pembacanya.  Jika saja tradisi menulis di kalangan mahasiswa ini digiatkan di semua institusi pendidikan, maka yakin bangsa ini akan tumbuh lebih baik dengan memiliki banyak pilihan bacaan yang mencerdaskan. (blog.akusukamenulis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: