Kerancuan Berbahasa


Oleh  :  Nurfita Kusuma Dewi

     Orang sering tidak paham tentang kesaktian yang terkandung dalam bahasa.  Bahasa mencerminkan mentalitas, pemikiran, kecenderungan pribadi, kekayaan pengalaman, dan kepekaan sosial penutur.  Ketika seorang penutur memiliki pikiran yang kacau, maka bahasa yang diucapkan pun akan kacau.  Sama halnya ketika penutur tidak mampu menghayati makna kata, maka rasa bahasa yang lahir pun ikut kacau.

Menurut catatan sejarah, suatu bangsa menjadi unggul dari bangsa lain karena kemampuan berbahasa yang dimilikinya.  Republik ini pun bisa merdeka dan diakui dunia internasional bukan hanya perkara bedhil (senapan), melainkan karena pemikiran dan bahasa yang digunakan oleh Soekarno-Hatta dalam diplomasi.  Andai saja Sutan Sjahrir yang dikirim untuk membela rakyat Indonesia di depan Dewan Keamanan PBB memiliki pemikiran dan kemampuan berbahasa yang kacau, apakah republik ini akan tetap terbentuk?

Bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan manusia.  Itulah mengapa Thomas B. Macaully, Direktur Pendidikan Inggris di India, menjabarkan filosofi penjajahan Inggris dengan mengatakan : ”My duty is to form a class..  Indian in blood and colour, but English in tastes, in opinions, in morals, and in intellect.”  India, Filipina, dan tak terkecuali Malaysia telah gagal menjadikan bahasa Hindi, Tagalog, dan Melayu sebagai bahasa nasional.  Untuk catatan sejarah ini, Indonesia patut bersyukur karena merupakan salah satu negara di Asia Selatan dan Tenggara yang berani berjuang untuk melepaskan diri dari hegemoni linguistik sang penjajah.

 

Gejala Rancu

Namun di balik kejayaan berbahasa masa lalu, bangsa ini tengah menunjukkan gejala-gejala pemakaian bahasa Indonesia yang nyleneh dan rancu.  Ada kecenderungan kuat generasi muda saat ini, utamanya mahasiswa, kurang berminat melakukan kajian-kajian bahasa, sastra dan ilmu humaniora.  Kajian pada ilmu-ilmu eksak dan pragmatis, seperti ilmu akuntansi, teknik, fisika, tidak diiringi dengan keinginan memperbaiki kemampuan berbahasa, baik lisan maupun tulisan.

Soenjono Dardjowidjojo, guru besar linguistik Unika Atma Jaya, membagi kerancuan berbahasa ini dalam 4 (empat) gejala bahasa.  Pertama adalah gejala kontradiksi.  Dalam kata “sumbangan wajib” kita akan menemukan perilaku yang tidak sejalan antara yang dikatakan dan yang dilakukan.  Kata “sumbangan” yang berfitur semantik dengan kata ”sukarela” justru dikolokasikan dengan kata ”wajib”.  ”Sumbangan wajib” dinilai lebih sopan dibandingkan kata ”iuran wajib”, meskipun makna kata yang hadir menjadi rancu.

Kedua adalah gejala keraguan.  Ketika seorang mahasiswa ditanya oleh dosen tentang suatu hal, maka jawaban yang diberikan bukan ”tidak tahu” tetapi ”kurang tahu”.  Dalam bahasa Indonesia memang ada kata-kata yang bergradasi yakni ”kurang manis” dan ”kurang minum”.  Tetapi ada pula yang tidak bergradasi seperti ”kurang mati” dan ”kurang tahu”.  Penggunaan kata ”kurang tahu” menempatkan penutur pada area abu-abu, tidak hitam dan tidak putih.  Alias ragu-ragu.

Ketiga adalah gejala anomali.  Ungkapan ”mengejar ketinggalan” menunjukkan keganjilan dalam pola pikir.  Seseorang mengejar sesuatu untuk ditangkap, jika yang dikejar ayam maka tujuannya adalah mendapatkan ayam.  Jika yang dikejar ketinggalan, pada saat tujuannya tercapai maka yang ia peroleh adalah ketinggalan itu sendiri.

Gejala keempat adalah ”sesuka gue”.  Dalam sebuah diskusi kelas, seorang mahasiswa berpendapat dan berkata ”mungkin ini agak subjektif banget”.  ”Banget” dan ”agak” adalah adverbia yang digunakan dalam satu kalimat.  Dosen yang mendengar kosakata ini pun menjadi bingung, apa makna kosakata ini sebenarnya : ”cenderung subjektif” atau ”cenderung objektif”?  Adverbia dalam percakapan sehari-hari juga kerap dipadankan dengan nomina, seperti ”kopi banget”, ”jeruk banget”, dan sebagainya.  Padahal di bahasa mana pun adverbia berfungsi menjelaskan adjektiva atau kata sifat.

.

Kelirumologi

Dari penjabaran gejala-gejala di atas tampak bahwa gejala kerancuan, keraguan, dan kesalahkaprahan masih kerap muncul dalam masyarakat tutur kita.  Maka jangan heran jika dalam sebuah kampanye, seorang calon pemimpin menjanjikan sebuah ”perubahan” alih-alih ”perbaikan”.  ”Perubahan” adalah bisa mengarah pada perubahan yang baik maupun buruk.  Sedangkan kata ”perbaikan” memerlukan perjuangan dan usaha yang lebih keras untuk merealisasikannya.

Gejala kerancuan dan kesalahkaprahan berbahasa ini kemudian disebut oleh budayawan Jaya Suprana dengan istilah ”kelirumologi”.  Kelirumologi adalah sebuah istilah humoris yang muncul untuk merujuk kepada kekeliruan logika dalam pembentukan frase dan kata yang sudah terlalu sering dipakai pengguna Bahasa Indonesia sehingga dianggap benar.  Salah satu contoh bentuk kelirumologi yang pernah ditulis oleh Jaya Suprana dalam sebuah tulisannya adalah kalimat berikut  :  “Didalam kalimat ini ada tiga kekeliliruan“.  Apakah Anda dapat menemukannya? (blog.akusukamenulis)

*dimuat di Majalah Civitas Vol. 9/Juli 2011*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: