Kusaeri Mati Dua Kali

Cerpen ini dimuat di Harian Global 25 September 2010

___________________________________

Kusaeri Mati Dua Kali

(oleh: Muhammad Nurcholis)

Kusaeri berjalan tersempal-sempal meniti bangunan pemecah ombak Pantai Teluk Penyu.Sesekali Ia berhenti, memejamkan matanya. Mencoba menyingkirkan ilusi gelombang pantai yang membuatnya pusing. Membuatnya seolah-olah terbawa arus. Setelah bayangan itu reda, dilanjutkan perjalanannya sambil terus meringis dan berkonsentrasi. Sampailah ia pada tengah bangunan. Dengan ombak yang lumayan tenang, ilusi mata sudah tidak terasa. Kusaeri gilang bukan kepalang. Inilah pencapaian terbaiknya semenjak ingin meniti bangunan pemecah ombak sedari kecil .

Sewaktu kecil, ia pernah mencoba, namun bapaknya menentangnya dengan keras.

“Hei! Mau kemana kamu?!! Sini kembali!!”, digamitnya lengan Kusaeri. Ditenteng, kemudian dilemparkan ke pasir pesisir pantai.

“Dasar anak cacat mental! Mau cari mati, kau?!”, Sumpah serapah keluar dari mulut bapaknya. Dikatanya binatang, anak setan dan kerabatnya. Namun, mengeti apalah Kusaeri. Ia menangis karena lututnya terantuk batok kelapa yang terbawa ombak ke pantai, bukan karena ucapan bapaknya.

Air liurnya menetes-netes. Bibirnya menggumam-gumam tidak jelas, membuat muak bapaknya. Terakhir, tangan bapaknya mendorong kepala Kusaeri hingga ia jatuh terjengkang.

More

Launching Buku Antologi Cerpen Pertamaku! \(^.^)/

Judul       :   Phantasy Poetica Imazonation
Penulis    :   Nurfita Kusuma Dewi, dkk  (Komunitas Penulis Muda Indonesia)
Tebal        :  320 halaman
Cetakan   :  Agustus 2010
Penerbit  :  Penulis Muda Publishing
Harga       :  Rp 50.000,- (+ ongkos kirim) More