Teruntuk (calon) wanita tangguh di negeriku Indonesia

: Mufidatunnisaa’ Kamila

|1|

Bintik merah, biang keringat di pipimu bikin gemas saja. Macam sukade pepaya yang manis nan memerah dalam roti panggang. Biarlah kucubit sejenak, tangismu sesaat setelahnya nanti kuredam dengan berjoget topeng monyet, berjingkrak-jingkrak, bermain cilukba sampai kau tertawa sesengkilan.

Aiih.. lucunya..

|2|

Adakah Tuhan menciptakan ciptaannya yang Terindah? Yang melengkung sempurna, tempat para lelaki rebah serta penyelaras nasab agar kita tidak punah.

Menyesapi tindak serta laku para laki, para ksatria, parajagoan tanpa tanding lagi perkasa.

Tegak bak sokoguru, penopang rumah tangga, penopang kuasa serta penopang bangsa lagi negara.

Perupa sejarah, menjadikannya mulia seperti ‘Aisyah, yang selalu ikhlas. Taat terhadap teman hidup dalam bahtera cinta meski goyang dalam gelinjang ombak prahara dalam negeri antah-berantah.

Adakah?

|3|

Jemari lentik, perangai lembut, penasehat santun, pasmina anggun, warna pink genit, pemikir taktis, pendengar penyabar, perawat dengan kasih sayang, peribadah taat, penjaga rumah tangga, penyayang mertua, penyukur dalam menerima, pekerja prima, penghemat belanja, peretas putus-asa, penyemangat derita: wanita yang luar biasa.

Pengkhianat pria (itu saja) : wanita celaka.

_______________________________